Showing posts with label artikel islam. Show all posts
Showing posts with label artikel islam. Show all posts

Monday, July 23, 2012

Tafsir Al-Qur’an Ulama Indonesia


Tafsir adalah suatu usaha dalam menyingkap dan mengungkap makna dibalik ungkapan-ungkapan bahasa Al-Qur'an dengan maksud untuk mentransfer faham dibalik lafadz yang tersurat, baik dipandang dari sisi sebab-sebab turunnya Al-Qur'an dan lokasi diturunkannya Al-Qur'an, termasuk juga membahas hukum yang terkandung didalamnya.
Pada awalnya kitab-kitab tafsir yang diusahakan pada masa sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin (pengikut tabiin) ditulis masih dalam bahasa Arab karena mereka hidup dikalangan orang-orang yang berbahas arab. Kelemahan tafsir ini antara lain yaitu tafsir mereka hanya dapat di fahami oleh orang yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan bahasa Arab yang cukup, srta contoh-contoh yang mereka buat belum tentu pas dalam semua kondisi setiap daerah. Padahal tujuan tafsir adalah untuk mengunkap dan memperjelas makna dibalik kata-kata Al-Qur'an yang menggunakan bahasa arab dan dan harus bisa dengan lebih mudah difahami masyarakat dimana Al-Qur'an itu ditafsirkan guna memantapkan pemahaman masyarakat terhadap pesan-pesan al-quran itu sendiri.
Nah dengan maksud memudahkan umat Islam yang ada di indonesia dalam memahami isi dan kandungan Al-Qur'an, maka usaha penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an dengan bahasa Indonesia juga dilakukan oleh para cendikia islam yang berbahasa indonesia, baik oleh perorangan maupun kelompok. Penerjemahan dan penafsiran Al-quran oleh mufassir Tanah Air tidak hanya ditransfer ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa daerah dan bahasa Melayu.
Penulisan kitab terjemahan dan tafsir Alquran dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Melayu sebenarnya sudah dimulai pada abad ke-17 M. Pada masa itu, Syekh Abdur Rauf Singkily seorang ulama asal Singkil di Aceh menyusun sebuah kitab tafsir pertama berbahasa Melayu yang diberi judul Turjuman al-Mustafid.
Upaya penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an dalam bahasa Melayu diteruskan pada periode selanjutnya oleh Muhammad bin Umar yang terkenal dengan nama Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Kitab Tafsir al-Munir li Ma'alim at-Tanzil al-Musfir 'an Wujuh Mahasin at-Ta'wil yang disusun Syekh Nawawi ini diterbitkan di Makkah pada permulaan tahun 1880-an. Hingga kini, sudah beberapa kali dicetak ulang dan banyak beredar di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, pada abad ke-19 M hingga memasuki abad ke-20 M, mulai bermunculan berbagai macam kitab terjemahan dan tafsir Alquran karya para ulama dalam negeri. Di antaranya, Al-Qur'an Al-Karim dan Terjemahan Maknanya karya Prof H Mahmud Yunus yang dirilis pada 1967. Tafsir ini hanya terdiri atas satu jilid, namun penafsirannya mencakup 30 juz.
Pada 1974, umat Islam di Indonesia mulai mengenal kitab tafsir dalam bahasa daerah melalui Al-Kitab al-Mubin Tafsir Al-Qur'an berbahasa Sunda yang disusun oleh KH MHD Ramli. Kemudian, di tahun 1977, muncul kitab tafsir dalam bahasa Jawa karya Prof KH R Muhammad Adnan yang berjudul Tafsir Al-Qur'an Suci.
Penulisan tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Indonesia secara lebih lengkap dalam satu jilid baru dilakukan oleh H Oemar Bakry melalui kitab Tafsir Rahmat yang terbit pada tahun 1981. Penafsiran dalam kitab ini dilakukan berdasarkan urutan surah dan ayat dalam Al-Qur'an tanpa mengelompokkan ayat sesuai dengan masalah yang dikandungnya. Yang membedakan kitab Tafsir Rahmat dengan kitab-kitab tafsir karya ulama Indonesia sebelumnya adalah setiap surah yang akan ditafsirkan didahului oleh suatu pendahuluan yang berisi uraian tentang nama atau nama-nama lain surah tersebut, jumlah ayat, hubungan antar surah, dan pokok isi surah. Penafsiran surah diakhiri dengan penutup yang berisi kesimpulan mengenai kandungannya.
Pada perkembangan berikutnya, masyarakat Muslim Indonesia juga mengenal Tafsir al-Azhar yang disusun oleh Hamka yang terbit pada tahun 1983. Kitab ini terdiri atas 15 jilid dan setiap jilid berisi penafsiran dua juz
Al-Qur'an. Di setiap awal surah yang ditafsirkan, diuraikan lebih dahulu beberapa hal yang berkaitan dengan surah dan pokok isinya. Selain itu, setiap ayat juga disertai dengan terjemahannya. Masalah pokok yang terkandung dalam ayat-ayat tertentu diuraikan dan ditafsirkan secara panjang lebar.
Selain kitab tafsir yang disusun secara perorangan, Muslim di Tanah Air juga mengenal karya tafsir yang dibuat secara kelompok atau oleh lembaga. Di antaranya Al-quran dan Terjemahannya yang disusun oleh Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur'an atas penunjukan oleh Departemen Agama RI. Al-quran dan Terjemahannya terbit pertama kali tahun 1971 dan sejak tahun 1990 terjemahannya telah mengalami revisi.
Dari panjangnya perjalanan usaha ulama indonesia dalam menyusun karya penafsiran Al-Qur'an maka tahapan itu di kelompokkan berdasarkan periode-periode tertentu, akan tetapi pada dasarnya periode awal abad 20 sampaitahun 1960 an cukup memberikan kontribusi yag sangat berharga dan dapat dikatakan penafsiran setelahnya merujuk pada tafsir-tafsir yang mereka buat.
Dalam periode pertama ini, tradisi tafsir di Indonesia bergerak dalam model dan teknis penulisan yang masih sederhana. Dari segi material teks Al-Qur'an yang menjadi objek tafsir, literature tafsir pada periode pertama ini cukup beragam. Pertama, ada literature tafsir yang berkonsentrasi pada surat-surat tertentu sebagai objek penafsiran, misalnya Tafsir Al-Qur'anul Karim, Yaasiin (Medan: Islamiyah, 1951) karya Adnan Yahya lubis; Tafsir Surat Yaasien dengan keterangan (Bangil: Persis, 1951) karya A. Hassan. Kedua literature ini berkonsentrasi pada surat Yaasiin.
Masih dalam konteks objek tafsir surat tertentu, ada yang berkonsentrasi pada surat Al-Fatihah, yaitu: Tafsir Al-Qur’anul karim, surat Al-Fatihah (Jakarta: Widjaja, 1955) karya Muhammad Nur Idris, Rahasia Ummul Qur’an atau Tafsir Surat Al-Fatihah (Jakarta: Institute Indonesia, 1956) karya A. Bahry, Kandungan Al-Fatihah (Jakarta: Pustaka Islam, 1960) karya Bahroem Rangkuti, dan Tafsir Surat Al-Fatihah (Cirebon: Toko Mesir, 1969) karya H. Hasri.
Kedua, karya Tafsir yang berkonsentrasi pada juz-juz tertentu. Pada bagian ini yang muncul hanya juz 30 (Juz ‘Amma) yang menjadi objek tafsir. Contoh dari model ini adalah : Al-Burhan, Tafsir Juz ‘Amma (Padang : Al-Munir, 1922) karya H. Abdul karim Amrullah, Al-Hidayah Tfsir Juz ‘Amma (Bandung: Al-Ma’arif, 1930) karya A. Hassan, Tafsir Djuz ‘Amma (Medan: Islamiyah, 1954) karya Adnan Yahya Lubis, Tafsir Al-Qur’anul Karim : Djuz ‘Amma (Jakarta: Wijaya, 1955) karya Zuber Usman, Tafsir Juz ‘Amma dalam Bahasa Indonesia (Bandung: Al-Ma’arif, 1958) karya Iskandar Idris, Al-Abroor, Tafsir Juz ‘Amma (Surabaya: Usaha Keluarga, 1960) karya Mustafa Baisa, dan Tafsir Djuz ‘Amma dalam Bahasa Indonesia (Bandung: Al-Ma’arif, 1960) karya M. Said.
Ketiga, ada yang menafsirkan Al-Qur’an utuh 30 juz, yaitu Tafsir Qur’an Karim (Jakarta: Pustaka Mahmudiyah, 1957cetakan VII) karya H. Mahmud Yunus yang untuk kali pertama diselesaikan penulisannya pada tahun 1938. Lalu Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (Medan: Firma Islamiyah, 1956, edisi ke-9) atau dikenal dengan nama tafsir tiga serangkai karya H. A. Halim Hassan, H. Zainal Abbas, dan Abdurrahman Haitami, Tafsir Al-Qur’an (Jakarta: Wijaya, 1959) karya H. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs, Tafsir Qur’an Al-Furqan (Jakarta: Tintamas, 1962) karya Ahmad Hassan, Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pembina Mas, 1967, cetakan 1) karya Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (Hamka), Tafsir Al-Bayan (Bandung: Al-Ma’arif, 1966) karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir Qur’an Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1932 karya Ahmad Surkati.
Penulisan Tafsir Al-Furqan karya A.Hasan berlangsung dalam kurun waktu 1920-1950-an. Terbagi ke dalam empat edisi penerbitan sampai sekarang.edisi pertama diterbitkan pada tahun 1928, akan tetapi dalam edisi pertama ini belum seperti yang diharapkan, karena baru dapat memenuhi sebagian ilmu yang diharapkan oleh umat islam Indonesia. Kemudian sebagai pemenuhan desakan anggota Persatuan Islam, edisi kedua tafsir tersebut dapat diterbitkan pada tahun 1941, namun ketika itu hanya sampai surat Maryam. Selanjutnya pada tahun 1953, penulisan kitab tafsir tersebut dilanjutkan kembali atas bantuan seorang pengusaha yang bernama Sa’ad Nabhan hingga akhirnya Tafsir Al-Furqan dapat diselesaikan secara keseluruhan (30 juz) dan dapat diterbitkan pada tahun 1956, yang kemudian pada tahun 2006, Tafsir Al-Furqan kembali diterbitkan oleh Pustaka Mantiq bekerjasama Universitas Al-Azhar Indonesia dalam satu jilid.
Pada masa Prof. H. Mahmud Yunus boleh dibilang ia adalah satu-satunya intelektual yang melakukan kegiatan penafsiran al-Qur’an. Dia memulai kegiatannya dengan menggunakan tulisan pego, yakni bahasa melayu atau bahasa Indonesia yang berbentuk tulisan arab. Kerja keras Mahmud Yunus ini pada tahun 1922 membuahkan karya terjemahan al-qur’an, yang kelak menjadi dasar bagi karya tafsirnya yang berjudul Tafsir al-Qur’an al-Karim dan Terjemahan Maknanya.
Metode Tafsir Periode pertama, awal abad 20 M sampai tahun 1950-an, ada yang ditulis dengan menggunakan metode ijmali (global) atau tarjamah tafsiriyah (tarjamah maknawi). Di antaranya seperti Tafsir al-Furqan, yang ditulis oleh A. Hassan. Penulisan kitab tafsir ini dimulai tahun 1928, dan selesai tahun 1956. Dan Tafsir al-Qur’an Karim (tiga serangkai) yang ditulis oleh H. A. Halim Hassan, H. Zainal Arifin Abbas, dan Abdurrahman Haitami pada tahun 1937. Tafsir ini pada mulanya ditulis dalam bentuk majalah 20 halaman, yang terbit tiap bulan.
Dan ada juga yang ditulis dengan menggunakan metode Maudhu’I (tematik). Diantaranya seperti Tafsir Al-Qur’anul karim, Yaasiin (Medan: Islamiyah, 1951) karya Adnan Yahya lubis, dan Tafsir Surat Yaasien dengan keterangan (Bangil: Persis, 1951) karya A. Hassan.
Adapun rujukan ulama-ulama tafsir Indonesia ini merujuk kepada ulama-ulama periode klasik seperti Ibnu Katsir dan As-Suyuti, juga kepada ulama-ulama periode pertengahan seperti Muhammad Abduh, Sayyid Quthb, dan Ahmad Mushtafa Al-Maragy.
Demekianlah usaha yang telah diupayakan oleh ulama mufassir indonesia tentunya penafsiran-penafsiran mereka cendrung lebih mudah difahami oleh masyarakat yang membutuhkan penafsiran al-quran dalam mengambil isi kandungan al-quran, hal ini disebabkan tafsirnya berbahasa yang sama dengan masyrakat dan pemberian contoh-contoh dalam penafsirannya pun cendrung disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar di zaman itu.

Friday, July 20, 2012

mengenal puasa

Didalam Al-quran surat Al-Baqarah ayat 183 Allah SWT Berfirman

يآايهاالذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على اللذين من قبلكم لعلكم تتقون
 
Artinya" hai orang-orang yang beriman dituliskan (agenda) kepadamu berpuasa sebagai mana dulu telah dituliskankan kepada orang-orang sebelum kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa (orang yang cermat dalam mengindahkan semua perintah allah dan menjauhi larangannya penj).

dalam posting kali ini putra padang lawas ingin berbagi pengetahuan but kita semua seputar pembahasan ayat 183 surat Al-Baqarah ini.
dalam ayat ini Allah menyeru kepada orang-orang mau percaya terhadap ajaran islam islam khususnya pada ajaran puasa dan segala yang berkaitan dengan puasa itu sendiri. sehingga setelah percaya maka di agendakanlah kepadanya sebagai suatu kewajiban untuk shiyam.
Shiyam diartikan dengan puasa, puasa itu adalah suatu ibadah menahan diri, misalnya menahan diri dari makan dan minum serta semua yang membatalkan puasa itu.
dalam istilah fiqih dijelaskan bahwa ( Ash-Shiyamu Huwa Al-Imsak) artinya menahan diri itu adalah berjaga jaga..
dalam istilah lain bahwa shiyam itu menahan diri dari segala perbuatan-perbuatan yang membatalkan puasa dan berjaga-jaga untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang membatalkan pahala puasa..
untuk hal-hal yang membatalkan puasa itu tidak boleh dilakukan selama melakukan  ibadah puasa sedangkan yang membatalkan pahala puasa itu tetap tidak boleh dilakukan kapan saja, sebab pahala puasa itu bisa batal ketika kita melakukannya diluar puasa juga..

adapun hal-hal yang membatalkan puasa itu ialah:
 
memasukkan segala sesuatu kedalam rongga mulut dengan sengaja seperti makan dan merokok
memasukkan makanan lewat rongga dubur dan atau pori-pori seperti suntikan...
melakukan hubungan suami istri
mengeluarkan sperma dengan sengaja

dan semua itu tidak membatalkan puasa jika terjadi karena lupa

Adapun hal-hal yang membatalkan pahala atau nilai puasa antara lain:

berdusta/berbohong termasuk memberi kesaksian palsu dan atau bersumpah palsu
ghibah atau membicarakan aib orang lain
Hasud/berlaku dengki dan juga iri hati
marah yang berlebihan termasuk bertengkar
memandang dengan nafsu dan syahwat tidak termasuk kepada suami atau istri

كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع والعطس

selain itu ada juga hal-halyang sering dianggap membatalkan puasa antara lain

kumur-kumur dan atau menggosok gigi
menyicipi makanan bagi orang yang sedang masak dengan sarat tidak menelan
menelan ludah dengan tidak berlebihan
muntah tidak sengaja
keluar sperma saat bermimpi

Sunday, July 15, 2012

Pemerintah Bantah Keliru Terjemahkan Al-Quran

TEMPO Interaktif, Jakarta -- Kementerian Agama membantah tuduhan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) bahwa terjadi kekeliruan dalam menerjemahkan 3.400 ayat Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia.

"Itu sudah lebih 50 persen dari isi Al-Quran. Apa dasarnya MMI menyatakan itu? Apa metodologi yang mereka gunakan?" kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nasaruddin Umar, kepada Tempo, Ahad (25/4).

Menurut Nasaruddin, anggapan bahwa kekeliruan itu memicu aksi terorisme sangat mengada-ada serta akan memojokkan dan mengadu domba sesama umat Islam. Nasaruddin menjelaskan, tim penerjemah di bawah Kementerian Agama berisi perwakilan sejumlah elemen masyarakat dari lembaga-lembaga yang kredibel, antara lain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Ketua Lajnah Tanfidziyah MMI Pusat, Irfan S. Awwas, mengatakan bom bunuh diri di masjid Kepolisian Resor Kota Cirebon pada medio April lalu adalah tanggung jawab Kementerian Agama. Ia menilai pemerintah salah menerjemahkan Al-Quran selama puluhan tahun. Kesalahan terjemahan pada sekitar 3.400 ayat itu diduga memicu tindakan radikalisme. "Ada ideologi teroris dalam terjemahan dari Depag (Kementerian Agama)," katanya dalam deklarasi MMI Jawa Tengah di Surakarta kemarin.

Nasaruddin menjelaskan, terjemahan Al-Quran terbaru diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama pada era Menteri Maftuh Basyuni. Ada 2 edisi terjemahan, yakni Tafsir Al-Quran (15 jilid) dan Terjemahan Al-Quran (1 jilid). Edisi yang umum digunakan masyarakat adalah terjemahan. "Mari duduk bersama untuk mendiskusikan masalah ini," ujarnya. 
 sumber:http://id.berita.yahoo.com/terjemahan-3-226-ayat-al-quran-pemerintah-keliru-215407898.html

Sunday, July 8, 2012

MENGENAL IMAM MAHDI


MENGENAL IMAM MAHDI
Oleh : Riadul Abdi Harahap S.Th.I
Imam Mahdi adalah sebuah gelar yang disematkan kepada orang yang sama karakteristik dan tugasnya dengan baginda Rasulullah Muhammad Shallallohu ‘alaihi Wasallam, seorang yang hidup pada masa kedzaliman, dan dia adalah seorang yang dilahirkan dari keturunan Muhammad bin Abdullah, ciri-ciri ini dapat kita ketahui dari penjelasan rasulullah dalam hadis-hadisnya ketika menceritakan Imam Mahdi itu, diantara hadis-hadis itu antara lain
Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kezhaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah SWT akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku (Muhammad bin Abdullah). Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun. (HR. Thabrani) ”
“Telah bersabda Rasulullah SAW,“Pada akhir zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya. Dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya. (HR. Muslim dan Ahmad)
Dari hadits tersebut dapat kita ambil inti bahwa kehidupan Imam Mahdi itu mempunyai kesamaan dengan Muhammad Ibnu Abdullah, keduanya sama-sama diutus kedalam masyarakat yang hidup dalam kedzaliman dan kesemena-menaan yang penuh, dan Imam Mahdi itu dilahirkan dari keturunan Muhammad bin Abdullah sehingga mereka akan menyandang nama yang sama bila diurut garis silsilahnya sampai nenek moyang mereka, Imam Mahdi akan memenuhi bumi dengn keadilan dan kemakmuran, hal ini juga sama dengan apa yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdullah dimasa hidupnya.
“Diwaktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya dan bumi pun tidak akan menahan sedikitpun dari tanam-tanamannya” keadaan  itu membuktikan kedatangan mereka sebagai utusan yang diutus langsung dari Tuhan, dengan tetesan air yang tidk ditahan-tahan itu maka bumi juga akan subur dan melahirkan kemakmuran.
Akan tetapi, lebih dahsyat lagi jika kita memaknainya dengan makna yang dilambangkan oleh air itu, air cenderung melambangkan kehidupan, karena air itu adalah lambang dari ilmu, dan bumi itu adalah lambang hati manusia yang mati dan gersang, maka dapat kita tarik makna dari ungkapan hadis itu, bahwa Imam Mahdi ketika itu akan mencurahkan segala ilmu bagi manusia yang sebelumnya hatinya mati, meskipun keadaan tersebut tidak terjadi untuk semua manusia yang hatinya mati dan gersang, dan itu sama dengan apa yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdullah dimasa hidupnya.
Imam Mahdi sebenarnya adalah sebuah nama gelar sebagaimana halnya dengan gelar khalifah, amirul mukminin dan sebagainya. Imam Mahdi dapat diartikan secara bebas bermakna “Pemimpin yang telah diberi petunjuk”. Dalam bahasa Arab, kata Imam berarti “pemimpin”, sedangkan Mahdi berarti “orang yang mendapat petunjuk”.

Ciri-ciri Imam Mahdi
Tidak ada seorang pun dimuka bumi ini yang mengetahui tentang Imam Mahdi dan ciri-cirinya , kecuali Rasulullah, karena Rasululah dibimbing oleh wahyu. Oleh karena itu bagi kita sebaik-baiknya tempat untuk merujuk tentang perkara ini adalah apa yang baginda Rasulullah katakan dalam hadist-hadistnya sebagai berikut:
Telah bersabda Rasulullah SAW: Al-Mahdi berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan, dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun. (HR. Abu Dawud dan al-Hakim) ”
Telah bersabda Rasulullah SAW: “ Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim) ” Kemunculan Imam Mahdi
Kemunculan Imam Mahdi bukan karena kemauan Imam Mahdi itu sendiri melainkan karena takdir Allah yang pasti berlaku. Bahkan Imam Mahdi sendiri tidak menyadari bahwa dirinya adalah Imam Mahdi melainkan setelah Allah SWT mengislahkannya dalam suatu malam, seperti yang dikatakan dalam sebuah hadist berikut: “ Al-Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) ”

Kemunculan Imam Mahdi akan di dahului oleh beberapa tanda-tanda sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadist berikut:
Aisyah Ummul Mukminin RA telah berkata: “ Pada suatu hari tubuh Rasulullah SAW bergetar dalam tidurnya. Lalu kami bertanya, ‘Mengapa engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Akan terjadi suatu keanehan, yaitu bahwa sekelompok orang dari umatku akan berangkat menuju baitullah (Ka’bah) untuk memburu seorang laki-laki Quraisy yang pergi mengungsi ke Ka’bah. Sehingga apabila orang-orang tersebut telah sampai ke padang pasir, maka mereka ditelan bumi.’ Kemudian kami bertanya, ‘Bukankah di jalan padang pasir itu terdapat bermacam-macam orang?’ Beliau menjawab, ‘Benar, di antara mereka yang ditelan bumi tersebut ada yang sengaja pergi untuk berperang, dan ada pula yang dipaksa untuk berperang, serta ada pula orang yang sedang berada dalam suatu perjalanan, akan tetapi mereka binasa dalam satu waktu dan tempat yang sama. Sedangkan mereka berasal dari arah (niat) yang berbeda-beda. Kemudian Allah SWT akan membangkitkan mereka pada hari berbangkit, menurut niat mereka masing-masing. (HR. Bukhary, Muslim) ”
Telah bersabda Rasulullah SAW: “ Seorang laki-laki akan datang ke Baitullah (Ka’bah), maka diutuslah suatu utusan (oleh penguasa) untuk mengejarnya. Dan ketika mereka telah sampai di suatu gurun pasir, maka mereka terbenam ditelan bumi. (HR. Muslim) ” Telah bersabda Rasulullah SAW: “ Suatu kaum yang mempunyai jumlah dan kekuatan yang tidak berarti akan kembali ke Baitullah. Lalu diutuslah (oleh penguasa) sekelompok tentara untuk mengejar mereka, sehingga apabila mereka telah sampai pada suatu padang pasir, maka mereka ditelan bumi. (HR. Muslim) ”
Telah bersabda Rasullah SAW: “ Sungguh, Baitullah ini akan diserang oleh suatu pasukan, sehingga apabila pasukan tersebut telah sampai pada sebuah padang pasir, maka bagian tengah pasukan itu ditelan bumi. Maka berteriaklah pasukan bagian depan kepada pasukan bagian belakang, dimana kemudian semua mereka ditenggelamkan bumi dan tidak ada yang tersisa, kecuali seseorang yang selamat, yang akan mengabarkan tentang kejadian yang menimpa mereka. (HR. Muslim, Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah) ”
Telah bersabda Rasulullah SAW: “ Akan dibaiat seorang laki-laki antara makam Ibrahim dengan sudut Ka’bah. (HR. Ahmad, Abu Dawud) ”
Telah bersabda Rasulullah SAW: “ Suatu pasukan dari umatku akan datang dari arah negeri Syam ke Baitullah (Ka’bah) untuk mengejar seorang laki-laki yang akan dijaga Allah dari mereka. (HR. Ahmad) ”
Kepemimpinan Imam Mahdi
Dalam hadist yang disebutkan di atas Imam Mahdi akan memimpin selama 7 atau 8 atau 9 tahun. Semasa kepemimpinannya Imam Mahdi akan membawa kaum muslimin untuk memerangi kezaliman, hingga satu demi satu kedzaliman akan tumbang takluk dibawah kekuasaanya.
Kemenangan demi kemenangan yang diraih Imam Mahdi dan pasukannya akan membuat murka raja kezaliman (Dajjal) sehingga membuat Dajjal keluar dari persembunyiannya dan berusaha membunuh Imam Mahdi serta pengikutnya. Kekuasaan dan kehebatan Dajjal bukanlah lawan tanding Imam Mahdi oleh karena itu sesuai dengan takdir Allah, maka Allah SWT akan menurunkan Nabi Isa dari langit yang bertugas membunuh Dajjal. Imam Mahdi dan Nabi Isa akan bersama-sama memerangi Dajjal dan pengikutnya, hingga Dajjal mati ditombak oleh Nabi Isa di “Pintu Lud” dalam kompleks Al-Aqsa.


Tuesday, July 3, 2012

I'jaz Alqur'an

معجزات القرآن
الفصل الاول: تعريف الإعجاز وإثباته:
الإعجاز: إثبات العجز. والعجز في التعارف: اسم للقصور عن فعل الشيء. وهو ضد القدرة، وإذا ثبت الإعجاز ظهرت قدرة المعجز، والمراد بالإعجاز هنا: إظهار

CANTIK DALAM PERSFEKTIF ISLAM

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai yang indah, murah hati dan menyukai kemurahatian, menyukai akhlak yang luhur dan membenci akhlak yang rendah.” (HR. Al-Baihaqi) 
 Islam memandang kecantikan itu berdasakan pada dua unsur jasmani dan rohani.Karena itulah penilaian kecantikan harus didasarkan pada

pahala membaca alqur'an

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu “hasanah” kebaikan dan satu”hasanah” kebaikan itu senilai dengan sepuluh “hasanah” kebaikan. Aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf, dan MIIM satu huruf.” (HR. At-Tirmizi no. 2910 dan dinyatakan shahih oleh

Monday, July 2, 2012

shiyam dan muttaqin

tak berapa lama lagi akan datang seruan bagi orang-orang yang percaya terhadap satu agenda, agenda itu sudah diagendakan juga bagi orang yang pecaya sebelum kita percaya, dan didalam agenda yang akan dihadapi ini dituntut untuk selalu teliti/menecermati yang di agendakan itu, dibuatnya agenda ini memang supaya orang yang betul2 percaya dengan apa yang ditelitinya ketika itu maka jadilah ia insan yang cermat, bahasa al-qurannya dia menjadi MUTTAQIN.. agenda itu adalah SHIYAM